Erfa News Libur sekolah Semester Ganjil TA 2025/2026 telah usai, umumnya saat masuk sekolah guru akan meminta siswa untuk menuliskan sebuah Cerita Pendek (Cerpen) tentang masa liburan mereka.
Bagi Anda yang binggung bagaimana cara membuat cerpen yang baik dan benar bisa menggunakan contohnya dibawah ini.
___
Kumpulan Cerpen Libur Sekolah
1. Liburan yang Tertinggal di Desa
Dito merasa liburannya gagal total saat Ayah mengumumukan mereka akan menginap satu minggu di rumah Kakek yang berada di kaki gunung, tanpa sinyal internet. Awalnya, Dito hanya bisa cemberut di teras rumah. Namun, pada hari ketiga, Kakek mengajaknya ke sawah. Dito belajar bagaimana lumpur terasa di sela-sela jari kakinya, bagaimana rasanya memanen jagung yang masih hangat terkena matahari, dan betapa nikmatnya makan nasi liwet di gubuk bambu. Saat tiba waktunya pulang, Dito tidak lagi menatap ponselnya. Ia menatap jendela mobil, menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari layar, tapi dari alam yang tenang.
2. Penjaga Toko Kecil
Bagi Laras, liburan tidak berarti pergi ke pantai atau hotel mewah. Liburan semester ini, ia memutuskan untuk membantu ibunya menjaga toko kelontong di depan rumah. Setiap pagi, ia menata botol sirup, menghitung kembalian, dan mendengarkan cerita para tetangga yang berbelanja. Suatu sore, seorang kakek tua membeli beras dengan uang koin yang banyak sekali. Laras dengan sabar menghitungnya sambil tersenyum. Kakek itu memujinya sebagai anak yang rajin. Di akhir liburan, Laras merasa bangga; ia belajar tentang tanggung jawab dan kesabaran yang tidak ia temukan di buku pelajaran sekolah.
3. Petualangan di Perpustakaan Kota
Bimo adalah seorang kutu buku. Ketika teman-temannya sibuk pamer foto liburan di luar negeri, Bimo justru "bepergian" lebih jauh melalui rak-rak di perpustakaan kota. Setiap hari ia duduk di sudut yang sama. Senin ia berada di zaman dinosaurus, Selasa ia menjelajahi luar angkasa, dan Rabu ia mendaki Everest lewat sebuah biografi. Baginya, libur sekolah adalah waktu paling bebas untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Di hari terakhir liburan, ia berhasil menyelesaikan sepuluh buku tebal. Bimo merasa otaknya lebih segar dan hatinya lebih penuh daripada siapapun.
4. Resep Rahasia Nenek
Sita selalu ingin bisa memasak seperti Nenek. Maka, libur sekolah kali ini ia habiskan di dapur. Mulai dari belajar membedakan lengkuas dan jahe, hingga menangis karena mengiris bawang merah. Nenek mengajarinya dengan penuh kasih, bercerita bahwa rahasia masakan enak bukanlah bumbu mahal, melainkan doa dan hati yang senang saat memasak. Di akhir liburan, Sita berhasil membuat rendang pertamanya untuk makan malam keluarga. Saat Ayah menambah porsinya dua kali, Sita menyadari bahwa liburan paling berkesan adalah saat ia bisa memberikan sesuatu yang manis untuk orang-orang tersayang.
5. Memperbaiki Sepeda Tua
Rian punya satu misi di liburan ini: menghidupkan kembali sepeda tua milik almarhum kakeknya yang sudah karatan di gudang. Bermodalkan video tutorial di internet dan peralatan milik Ayah, Rian mulai membongkar sepeda itu. Ia belepotan oli, tangannya sempat tergores, dan beberapa kali ia hampir menyerah karena rantainya sulit dipasang. Namun, di hari Minggu terakhir sebelum sekolah masuk, sepeda itu berkilau kembali dengan warna biru langit. Rian mengayuhnya keliling kompleks dengan perasaan menang. Liburan itu mengajarinya bahwa memperbaiki sesuatu yang rusak jauh lebih memuaskan daripada sekadar membeli yang baru.
6. Diplomasi di Balik Meja Makan
Zaki awalnya menganggap liburannya akan membosankan karena kedua orang tuanya sibuk bekerja dan tidak bisa membawanya pergi ke luar kota. Ibunya kemudian memberinya sebuah tantangan: "Jika kamu ingin liburan yang seru, coba ambil alih peran Ibu di rumah selama tiga hari." Zaki setuju dengan percaya diri.
Hari pertama dimulai dengan kekacauan. Ia lupa menyalakan penanak nasi, salah memilah cucian hingga kemeja putih ayahnya menjadi merah jambu, dan pusing memikirkan menu makan siang. Di hari kedua, ia mulai belajar manajemen waktu. Ia bangun lebih pagi, mencatat belanjaan dengan teliti, dan mencoba memasak sayur lodeh lewat panduan video. Di hari ketiga, Zaki menyadari betapa lelahnya rutinitas rumah tangga yang selama ini dianggapnya sepele. Liburan itu tidak membawanya ke tempat baru, namun membawanya pada cara pandang baru untuk lebih menghargai setiap keringat orang tuanya.
7. Misteri di Balik Bukit Pinus
Tiara dan dua sepupunya, Aris dan Dina, menghabiskan liburan di rumah nenek di sebuah desa terpencil. Di belakang rumah itu, terdapat bukit pinus yang katanya menyimpan "harta karun". Berbekal senter, air minum, dan keberanian, mereka mendaki bukit itu di pagi yang berkabut.
Di tengah jalan, mereka tersesat dan sempat merasa takut. Bukannya menemukan emas atau perhiasan, mereka justru menemukan sebuah air terjun kecil yang sangat jernih dengan hamparan bunga liar di sekelilingnya. Di sana, mereka menemukan sebuah kotak kayu tua di bawah pohon besar yang berisi surat-surat lama dan foto masa muda kakek mereka bersama teman-teman desanya. Mereka sadar bahwa "harta karun" tersebut adalah kenangan. Liburan itu mengajarkan mereka bahwa petualangan yang sesungguhnya adalah tentang perjalanan dan kebersamaan, bukan sekadar hasil akhir.
8. Kursus Kilat Kemanusiaan
Bagi Reno, libur sekolah adalah waktu untuk menaikkan peringkat di game online. Namun, Ayahnya punya rencana lain. Reno dikirim ke panti asuhan milik teman Ayahnya untuk menjadi relawan selama seminggu. Awalnya Reno merasa risih dan tidak nyaman karena harus berbagi kamar dan mengikuti jadwal yang ketat.
Namun, segalanya berubah saat ia bertemu dengan seorang anak bernama Adi yang sangat mahir matematika tetapi tidak memiliki buku latihan. Reno mulai menghabiskan waktunya untuk mengajari anak-anak di sana, berbagi cerita, dan bahkan menyelenggarakan turnamen sepak bola kecil di halaman panti. Saat hari kepulangan tiba, Adi memberikan sebuah gambar tangan sederhana sebagai ucapan terima kasih. Reno pulang dengan hati yang jauh lebih kaya; ia menyadari bahwa kebahagiaan sejati justru ditemukan saat kita memberi, bukan hanya saat kita menerima.
9. Pelari di Persimpangan Jalan
Fajar adalah atlet lari sekolah yang baru saja mengalami cedera di lututnya tepat sebelum libur dimulai. Ia menghabiskan hari-hari pertama liburannya dengan murung, menatap sepatunya yang menganggur. Kakaknya kemudian mengajaknya untuk pergi ke pantai, bukan untuk lari, melainkan untuk melukis.
Awalnya Fajar menolak, merasa melukis adalah hal yang membosankan. Namun, saat ia mulai menggoreskan warna di atas kanvas sambil mendengarkan deburan ombak, ia merasakan kedamaian yang sama seperti saat ia berlari. Ia belajar bahwa identitasnya bukan hanya tentang kaki yang cepat, tapi juga tentang jiwa yang kreatif. Liburan itu menjadi masa penyembuhan fisik sekaligus mental. Fajar kembali ke sekolah tidak hanya dengan lutut yang pulih, tapi dengan hobi baru yang membuatnya lebih tenang menghadapi tekanan kompetisi.
10. Jejak Hijau di Tepi Kota
Geng "Eko-Siswa" yang terdiri dari lima sekawan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda di liburan semester ini. Daripada ke mal, mereka melakukan aksi "Gerilya Hijau". Mereka mengumpulkan uang saku untuk membeli bibit pohon dan tanaman hias, lalu meminta izin kepada pengurus lingkungan untuk menyulap lahan kosong yang kumuh di pinggir perumahan menjadi taman kecil.
Mereka bekerja di bawah terik matahari, mengangkut tanah, mengecat ban bekas untuk pot, dan menanam bibit. Tetangga yang awalnya acuh mulai datang membantu memberikan minuman dan cemilan, bahkan ada yang menyumbangkan tanaman tambahan. Di akhir liburan, lahan yang dulunya tempat pembuangan sampah telah berubah menjadi taman cantik tempat anak-anak kecil bermain. Mereka belajar tentang kekuatan kerja sama tim dan kepuasan melihat sesuatu tumbuh karena usaha sendiri. Liburan itu meninggalkan jejak yang akan terus tumbuh subur, jauh setelah mereka kembali ke bangku kelas.
(Erfa News/Putri Kusuma Rinjani)
***
Artikel lainnya di google news.
Ikuti dan bergabung disaluran WhatsApp Erfa News