Empat Tantangan Dosen Indonesia dalam Menulis Artikel Ilmiah

Erlita Irmania
0
Empat Tantangan Dosen Indonesia dalam Menulis Artikel Ilmiah

Masalah Utama dalam Publikasi Ilmiah Dosen Indonesia

Dosen di Indonesia telah banyak menerbitkan naskah jurnal, tetapi belum semua dari mereka memiliki kualitas yang memadai. Banyak dosen menghadapi berbagai tantangan ketika menulis artikel ilmiah, terutama dalam hal topik yang sudah usang, analisis yang tidak akurat, pengabaian etika, serta keterbatasan kemampuan berbahasa Inggris.

Tekanan untuk melakukan publikasi sering kali memicu pelanggaran etika seperti kepengarangan palsu dan manipulasi data. Dunia akademis Indonesia masih menghadapi berbagai masalah serius. Keterbatasan anggaran penelitian yang tidak sejalan dengan tuntutan publikasi tinggi menciptakan dilema bagi para akademisi.

Secara kuantitas, jumlah publikasi yang diterbitkan semakin meningkat. Namun, peningkatan ini belum sepenuhnya diiringi dengan peningkatan kualitas. Banyak dosen menerbitkan artikel ilmiah di jurnal yang tidak bereputasi demi memenuhi syarat administratif, ketimbang berusaha menembus jurnal internasional bergengsi.

Berdasarkan pengalaman sebagai narasumber dalam pelatihan penulisan artikel ilmiah bagi dosen, yang diselenggarakan oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), dosen Indonesia sering menghadapi beberapa masalah ketika menulis naskah untuk jurnal internasional.

Masalah ini mencakup kebaruan riset, analisis, kemampuan menulis dalam bahasa Inggris, dan etika publikasi.

1. Tidak Ada Unsur Kebaruan

Kebaruan hasil riset dan kreativitas peneliti merupakan salah satu faktor kunci yang menentukan diterima atau tidaknya naskah ilmiah oleh editor dan reviewer jurnal. Kebaruan publikasi ilmiah adalah kemampuan penulis mengombinasikan komponen pengetahuan yang sudah ada dengan sudut pandang yang baru atau belum pernah ada sebelumnya. Kebaruan hasil riset menuntut kreativitas peneliti untuk mencari solusi baru atas masalah yang sedang diteliti.

Sayangnya, banyak peserta pelatihan penulisan ilmiah belum menyadari hal ini. Sekitar 75% dari manuskrip peserta memiliki topik riset yang sudah usang atau kurang mendalam. Untuk bidang pertanian misalnya, masih ada peserta yang menyuguhkan ide untuk meneliti pengaruh pupuk nitrogen terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman secara umum. Topik semacam ini akan sulit menembus jurnal bereputasi jika data dan bahasannya masih dalam skala yang terlalu luas. Sebab, topik serupa sudah banyak dikaji sejak 1950-an.

Salah satu cara untuk menghindari persoalan ini adalah dengan rajin membaca update artikel ilmiah bermutu dari jurnal internasional berkualitas tinggi agar kita bisa mengetahui perkembangan mutakhir (state of the art) topik riset. Dalam konteks pupuk tersebut, peserta bisa merujuk ke contoh riset terbaru penggunaan pupuk nitrogen dengan hasil dan pembahasan pada level mikro atau nano yang diterbitkan di jurnal internasional bereputasi (Q1). Selain itu, tema dengan kearifan lokal Indonesia, umumnya lebih menarik minat pembaca internasional.

2. Analisis dan Presentasi Data Tidak Menarik

Analisis dan penyajian data penting karena hasil riset yang tidak lengkap atau kurang menarik bisa menurunkan relevansi dan reputasi peneliti maupun institusinya. Masalah dalam hal ini kerap terjadi karena kesalahan pengumpulan, pengolahan, dan penafsiran data. Beberapa isu krusial yang sering ditemukan dalam analisis dan presentasi data, antara lain:

  • Informasi atau data tidak cukup atau bahkan berlebihan.
  • Kurangnya penjelasan terperinci tentang data, cara memperoleh dan menganalisisnya.
  • Penulisan rumus umum secara berlebihan, lebih dari konteks yang diperlukan.
  • Ketidaksesuaian penulisan rumus, satuan, dan persamaan dengan standar baku (mengikuti panduan penulisan).
  • Kurangnya penjelasan lengkap tentang proses pemilihan dan perekrutan responden/partisipan.
  • Minimnya uraian tentang perlindungan terhadap objek riset berupa makhluk hidup yang seharusnya mendapatkan prioritas tinggi. Peneliti perlu menyampaikan bagaimana perlakuan objek riset sebelum dan sesudah riset dilakukan, termasuk perawatan objek riset selama riset berlangsung—misalnya dengan mengikuti panduan ketika menggunakan objek riset hewan.
  • Kurang menjaga privasi objek riset terkait identitas untuk memastikan anonimitas (dalam tulisan, tabel, foto).

Sementara dari sisi analisis, metode semestinya menggambarkan apa yang telah dikerjakan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan dan menyelesaikan masalah penelitian. Penulis tidak perlu lagi mengutip definisi konsep metodologi penelitian, terutama yang sudah umum diketahui. Jika metode yang diterapkan dalam riset kurang kuat atau tidak tepat, hasilnya tidak meyakinkan kalangan akademis. Sebagai contoh, metode yang tidak memiliki tahapan yang jelas untuk menghasilkan solusi dari permasalahan akan mengurangi nilai dari artikel.

3. Kemampuan Menulis Ilmiah dalam Bahasa Inggris Masih Terbatas

Hingga saat ini, mata kuliah tentang cara menulis ilmiah di jurnal belum banyak dimasukkan di kurikulum S-2 atau S-3. Padahal, tugas akhir studi (skripsi, tesis, dan disertasi) bisa jadi bahan untuk dipublikasikan di jurnal. Berdasarkan pengalaman kami, banyak peserta belum terampil mengubah tugas akhir menjadi artikel jurnal karena mereka belum mengetahui perbedaan antara penulisan tesis dan jurnal.

Alih-alih melakukan tahapan-tahapan untuk mengubah tesis atau disertasi menjadi naskah ilmiah, mayoritas peserta langsung menggunakan seluruh isi disertasi atau memotongnya menjadi beberapa bagian yang mirip. Selain itu, untuk mengirimkan artikel ke jurnal internasional, dosen harus menulis naskahnya dalam bahasa Inggris. Ini membutuhkan keahlian khusus karena tidak semua dosen familier dengan penulisan artikel ilmiah dalam bahasa Inggris.

Untuk mengatasi ini, praktik kerja sama antara lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (LPPM) dan pusat bahasa di Universitas Andalas (Unand) bisa diadopsi oleh perguruan tinggi lainnya. Di universitas ini, naskah ilmiah yang ditulis dalam bahasa Indonesia diterjemahkan oleh ahli bahasa di Pusat Bahasa Unand. Khusus untuk dosen Unand, jasa ini tidak berbayar.

4. Kurang Memperhatikan Etika

Kemendikbudristek telah menerbitkan Peraturan Menteri No. 39/2021 tentang Pelanggaran Integritas Akademik dalam menghasilkan karya ilmiah. Pengukuran tingkat pelanggaran dan sanksinya pun sudah ada. Platform anjungan integritas akademik Indonesia (Anjani) jelas mengatur perihal ini, termasuk pembentukan Majelis Kehormatan Integritas Akademik di setiap perguruan tinggi.

Namun, pelanggaran etika masih jamak terjadi, mulai dari penulisan nama-nama dalam baris kepengarangan meski tidak berkontribusi, hingga pemalsuan data. Praktik tersebut terjadi karena tekanan publikasi dan lemahnya pemahaman serta pengawasan di institusi. Solusi masalah ini adalah pendidikan etika, standar penulisan yang ketat, pendampingan, dan penggunaan teknologi pendukung.



Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default