Saat GoPay Tak Lagi Jadi Ukuran Apresiasi, Makna Menulis di Kompasiana Diulas Kembali

Erlita Irmania
0

Membaca tulisan Omjay mengenai semakin langkanya GoPay di Erfa Newsmenghasilkan perasaan yang kompleks. Ada rasa simpati, kecemasan, dan juga perasaan "ikut memiliki" yang mungkin juga dirasakan oleh banyak Kompasianer lainnya, khususnya mereka yang telah lama berkembang bersama platform ini.

Kekhawatiran itu wajar. Ia muncul dari pengalaman yang panjang, dari konsistensi dalam menulis, dari kesetiaan terhadap sebuah ruang yang dulu terasa sangat hidup.

Namun justru karena tulisan tersebut lahir dari rasa cinta, maka ruang diskusi seharusnya tetap terbuka. Tidak semua kekhawatiran perlu dijawab dengan persetujuan penuh. Terkadang, cinta terhadap suatu platform berarti keberanian untuk memahami perubahan dengan pendekatan yang berbeda.

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mengabaikan perasaan kecewa, apalagi menganggap rendah suara dari para penulis berpengalaman.

Tulisan ini justru ingin mengajak kita semua berhenti sejenak, mengambil napas, dan mempertanyakan kembali: apakah GoPay benar-benar menjadi ukuran utama penghargaan di Erfa Newshari ini?

Atau mungkin kita sedang menghadapi perubahan sistem ekologis yang belum sepenuhnya kita mengerti?

Dari Ruang Pemilahan ke Ruang Harapan

Erfa News lahir sebagai wadah pertukaran ide. Ia bukan hanya sebuah platform blog, tetapi tempat di mana masyarakat umum dapat berbicara, menulis, dan menyampaikan pandangan mereka mengenai berbagai topik: pendidikan, politik, kebijakan publik, kehidupan sehari-hari, hingga kisah-kisah pribadi yang sering kali tidak tercakup dalam media utama.

Pada tahap awal perkembangannya, kehadiran GoPay memberikan semangat baru. Ia membangkitkan antusiasme, membuat para penulis merasa dihargai, dan membuat banyak penulis merasa karyanya "dibaca oleh sistem".

Dalam konteks tersebut, GoPay berperan tidak hanya sebagai insentif keuangan, tetapi juga sebagai tanda penghargaan.

Isu mulai muncul ketika simbol secara perlahan berubah menjadi patokan. Ketika penghargaan semakin sering diartikan sebagai jumlah uang, bukan sebagai respons terhadap gagasan.

Saat pertanyaan setelah menulis bukan lagi "apa yang ingin saya sampaikan?", tetapi "apakah ini bisa jadi GoPay?"

Perubahan ini hampir tidak terasa, namun dampaknya secara perlahan mengubah hubungan antara penulis dan platform. Erfa News yang sebelumnya menjadi tempat berbagi, berisiko dianggap sebagai ruang harapan.

Meskipun sejak awal, tidak pernah ada kesepakatan tersirat bahwa setiap tulisan yang bagus pasti akan berakhir dengan insentif.

Pada titik ini, rasa kecewa mudah muncul. Bukan hanya karena GoPay mengalami penurunan, tetapi juga karena harapan yang sebelumnya tinggi kini tidak lagi sesuai dengan kenyataan.

Penghargaan Tidak Selalu Muncul Berupa Notifikasi

Terdapat satu fakta yang sering kali terlewat oleh kita: tidak semua bentuk apresiasi berupa notifikasi. Tidak semua penghargaan muncul dalam wujud saldo digital. Di dunia tulis-menulis, apresiasi sering kali hadir secara diam-diam.

Ia muncul ketika tulisan kita diambil oleh orang lain tanpa kita menyadari. Ketika gagasan kita menjadi topik pembahasan di kelas, grup WhatsApp, atau forum kecil. Ketika para pembaca secara diam-diam merasa diwakili, mendapat pencerahan, atau terhibur, meskipun tidak pernah meninggalkan komentar.

Erfa News, secara umum, merupakan ruang umum. Dalam ruang umum, penyebaran ide tidak selalu sejalan dengan sistem imbalan. Artikel yang menyebar luas belum tentu paling bermakna, dan tulisan yang diam belum tentu tidak berarti.

Di sinilah mungkin kita perlu lebih adil terhadap diri sendiri sebagai seorang penulis. Jika awalnya kita menulis karena dorongan untuk berbagi, maka seharusnya nilai tulisan tidak hilang hanya karena satu bentuk apresiasi semakin langka. GoPay mungkin berkurang, tetapi makna menulis seharusnya tetap utuh.

Bukan berarti mengajak untuk memperbolehkan kekecewaan, tetapi usaha untuk memperluas cara kita memberi makna pada penghargaan.

Pemilihan, Kualitas, dan Ruang yang Terbatas

Keluhan terkait kurasi adalah hal yang wajar. Setiap penulis, baik cepat maupun lambat, pasti merasa tulisannya "layak", tetapi tidak mendapat perhatian. Namun, harus diakui bahwa kurasi merupakan hal yang pasti terjadi di platform sebesar Erfa News.

Ruang utama selalu terbatas, sedangkan jumlah tulisan yang masuk mencapai ribuan. Dalam situasi demikian, proses pemilihan tidak bisa sepenuhnya objektif.

Terdapat faktor kecepatan, ada konteks sosial, ada kebutuhan redaksi, serta pertimbangan pembaca yang tidak selalu dapat dijelaskan secara terpisah.

Jika tulisan kritis tidak muncul di ruang utama, bukan berarti ia dilarang. Mungkin saja, ia hanya belum sesuai dengan kebutuhan pada saat itu. Meskipun hal ini tidak selalu memuaskan, bukan berarti kualitasnya terabaikan.

Justru di sini ujian bagi Kompasianer diuji. Apakah kita menulis untuk ruang utama, atau menulis karena gagasan tersebut perlu disampaikan, apa pun konsekuensinya?

Tulisan-tulisan yang kritis memang tidak selalu menyenangkan. Ia sering kali berada di jalur yang sepi. Namun, sejarah membuktikan, ide-ide penting sering muncul dari tempat-tempat yang tidak ramai.

Menulis Kritis Tanpa Mengandalkan Insentif

Terdapat kejanggalan yang perlu kita pahami bersama. Ketika tulisan kritis membutuhkan keberanian, namun pada saat yang sama menginginkan penghargaan, maka kritik tersebut menjadi rentan. Bukan berarti salah, tetapi justru lemah.

Kritik yang tajam umumnya muncul dari kebebasan. Ia tidak menantikan pengakuan, apalagi imbalan. Ia bertahan karena keyakinan bahwa suara tersebut harus disampaikan, meskipun tidak selalu diterima dengan baik.

Jika kritik hanya dianggap sah bila diberi GoPay, maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya keadilan sistem, tetapi juga kebebasan berpikir. Kritik yang terlalu tergantung pada imbalan berisiko kehilangan kekuatannya.

Bukan berarti penulis tidak pantas dihargai. Justru sebaliknya. Namun, penghargaan terbaik untuk karya tulisan yang kritis sering kali bukan berupa uang, melainkan kelangsungan ruang tersebut sendiri.

Selama Erfa Newsmasih menyediakan ruang untuk pendapat yang berbeda, maka kritik belum sepenuhnya kalah.

Erfa News dan Tantangan Menjadi Dewasa Bersama

Erfa Newshari ini berbeda dengan Erfa News sepuluh tahun yang lalu. Ekosistem digital telah berubah, pola pembaca juga berubah, serta cara platform bertahan pun berbeda. Tidak semua perubahan bersifat positif, tetapi tidak semua perubahan berarti mundur.

Mungkin saat ini Erfa News sedang beralih dari platform berbasis insentif ke platform berbasis reputasi dan jejak gagasan. Pada tahap ini, nilai seorang penulis tidak lagi diukur dari seberapa sering mendapatkan GoPay, tetapi dari konsistensi, kedalaman, dan integritas tulisannya dalam jangka panjang.

Bagi penulis berpengalaman, tahap ini memang tidak mudah. Ada perasaan kehilangan, ada rasa kangen, ada kerinduan terhadap masa ketika apresiasi terasa lebih jelas. Namun, tumbuh dewasa bersama sebuah platform berarti siap menerima bahwa rumah yang kita cintai akan terus mengalami perubahan.

Menulis di Erfa News, pada akhirnya, merupakan keputusan. Keputusan untuk tetap bersuara meskipun hening. Keputusan untuk tetap berbagi meskipun tidak selalu mendapat balasan. Keputusan untuk percaya bahwa pikiran yang tulus tidak pernah benar-benar sia-sia.

GoPay mungkin bukan lagi ukuran utama penghargaan. Namun selama Erfa Newsmasih menjadi tempat bagi cerita warga, refleksi sosial, dan suara yang beragam, makna menulis tetap layak dipertahankan.

Dan mungkin saja, inilah makna penghargaan yang paling autentik: ketika kita terus menulis, bukan karena apa yang kita peroleh, tetapi karena apa yang ingin kita tinggalkan dalam bentuk gagasan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default